Sumenep, genpimadura.id – Sejumlah koleksi benda purbakala peninggalan para raja Sumenep tersimpan aman di Museum Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Salah satu yang menarik untuk diteliti oleh para pengunjung adalah simbol ‘Yoni’ pada benda-benda purbakala dalam museum Kota Keris ini. Yoni pada artefak pararaton tersebut berupa ukiran burung garuda yang ditengarai merupakan khas peninggalan Kerajaan Majapahit.

“Yoni tersebut ditengarai berasal dari sejarah awal kekuasaan Kerajaan Majapahit,” ungkap salah seorang arkeolog asal Sumenep, Hairil Anwar, kepada genpimadura.id beberapa waktu lalu.

Yoni yang terbuat dari batu andesit tersebut memiliki ragam hias ukiran dengan corak burung garuda yang ditungganggi sosok Dewa Wisnu. Koleksi benda purbakala ini berada di Kantor Konèng, letaknya berada tepat di sisi paling barat Museum Keraton Sumenep.

Arkeolog yang akrab dipanggil Hairil itu menjelaskan, berdasarkan sumber dari dokumentasi Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV) Universitas Leiden, Yoni tersebut ditemukan di Dungkek pada kisaran tahun 1941 yang kemudian, dengan alasan untuk melestarikannya, lalu dipindahkan ke Museum Sumenep.

“Yoni ini ada di Kantor Koneng, di depan pintu masuk menuju ruangan kamar Tumenggung Tirtanegara Bindhâra Saod,” jelasnya.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Sumenep itu lalu menceritakan sejarahnya. Menurut Hairil, Yoni yang menggambarkan seeokor burung garuda itu merupakan lambang kepatuhan dan pengorbanan Garuda pada Sang Ibu.

“Garuda ini berjuang untuk menyelamatkan Winata, ibunya, dari kekejam Kadru. Dan untuk membebaskan Sang Ibu, Garuda harus berhasil membawakan amerta (air suci, red) dari kayangan,” tuturnya membuka cerita.

“Garuda itu membuat kekacauan di kayangan, dan akhirnya dapat ditundukkan oleh Dewa Wisnu, dan Garuda rela menjadi tunggangannya,” imbuhnya.

Hairil menyebutkan, arkeologi peninggalan Hindu Budha ini adalah saksi sejarah (bukti) dan sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi orang Madura pada umumnya, dan masyarakat Sumenep pada khususnya, agar dapat memetik hikmah bagaimana mereka seharusnya menghormati seorang ibu.

“Tidaklah mengherankan jika masyarakat Madura memiliki pedoman bhâppa’ bhâbbu’ ghuru rato,” simpul Hairil.

Terpisah, penjaga Museum Keraton Sumenep, Rian, mengatakan, untuk dapat menjelajahi seluruh peninggalan raja-raja Sumenep tersebut, pengunjung hanya cukup membayar biaya tiket sebesar Rp 3.000 untuk anak-anak dan Rp 5.000 untuk orang dewasa.

“Para pengunjung akan diajak keliling, akan dipandu, melihat apa saja peninggalan raja-raja Sumenep di dalamnya,” terang Rian.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here