Zeid Muhammad Yusuf, Pengelola Masjid Agung Sunan Ampel.

Sumenep, genpimadura.id – Zeid Muhammad Yusuf, pengelola Masjid Sunan Ampel Surabaya, mendapat kehormatan sebagai pemateri pertama dalam Bimtek yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Bimtek dengan tema “Pengelolaan Pariwisata Budaya dan Buatan” ini berlangsung selama dua hari, Selasa hingga Rabu tanggal 11-12 Maret 2020. Bertempat di Hotel Musdalifah, Jl Trunojoyo Desa Gedungan Kecamatan Batuan Sumenep Madura.

Dalam kegiatan Bimtek ini, Zeid Yusuf berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang strategi peningkatan kualitas wisata religi menjadi destinasi yang diminati.

Pengembangan kawasan wisata religi menurutnya perlu dimulai dari hal yang paling sederhana. Satu contoh, wisata religi Sunan Ampel Surabaya, papar lebih lanjut, maka yang penting diutamakan menurutnya adalah bagaimana cara khusus memberikan pelayanan kepada peziarah yang datang.

“Kewajiban utama pengelola wisata religi adalah memberikan pelayanan yang baik, seperti yang diajarkan dalam Islam, pentingnya melayani tamu,” jelasnya kepada genpimadura.id seusai menyampaikan materi.

“Setiap ada peziarah hingga pengunjung wisatawan mancanegara, kita boleh menyediakan pakaian busana yang syar’i,” imbuhnya.

Zeid Yusuf mengungkapkan, ketika ada tamu dari mancanegara, dirinya tidak segan menyodorkan sarung, kerudung, berikut juga mukena kepada mereka. “Ya, bahkan tidak jarang saya sendiri yang menyarungi mereka,” ujarnya.

Pelayanan yang baik kepada para peziarah harus terus diusahakan hingga mereka merasa nyaman dan aman berada di tempat yang mereka kunjungi.

“Tolong, hargai setiap tamu yang datang. Kedatangan mereka untuk berziarah ke Sunan Ampel, bukankah sudah selayaknya kita tampakkan rasa terima kasih pada mereka,” ujarnya.

Praktisi wisata religi ini kemudian berpesan agar para pelaku wisata religi di Madura berani untuk mencoba hal-hal baru yang dapat membahagiakan pengunjung.

“Ketika tamu datang, coba berikan cerita yang baik, mulai sejarah tokoh para wali hingga perjuangannya, agar bisa diteladani oleh para peziarah,” katanya.

Hal baru tersebut, sambung Zeid Yusuf, setidaknya dapat menjadi oleh-oleh saat mereka pulang ke rumahnya masing-masing. “Bisa membawa cerita yang baik dari tempat yang mereka ziarahi,” imbuhnya.

Hal lain dari yang disebutkan atas, menurutnya para pelaku wisata religi dapat melakukan upaya pengembangan dengan cara menyediakan kotak infaq bagi para peziarah. Hasil infaq itu nanti dapat dijadikan biaya tambahan untuk perawatan dan pengembangan.

Tidak berhenti sampai di situ, Zeid Yusuf kemudian menyebutkan bahwa jumlah peziarah yang berkunjung ke wisata religi Sunan Ampel Surabaya seringkali tembus mencapai 12 ribu hingga 13 ribu pengunjung dalam setiap harinya.

Jika sudah mencapai jumlah pengunjung sebanyak itu, kata Zeid Yusuf, maka di sekitar kawasan wisata religi para pengelola dapat menyediakan sentra kerajinan khas daerah setempat. Selain untuk menarik minat pengunjung, pelayanan tersebut juga dapat membantu peencaharian bagi masyarakat setempat.

“Dengan begitu perekonomian masyarakat sekitar juga akan ikut hidup,” tandasnya.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here