Sumenep, genpimadura.id – Kuliner khas Desa Jaba’an Kecamatan Manding, Sumenep, Madura, Jawa Timur yang satu ini sedang sedang nge-trend di kalangan masyarakat lokal Kota Sumekar.

Palotan Pindang, atau ketan pulut ini diolah dengan tehnik khusus, yakni dimasak dengan adonan santan kelapa di atas perapian tradisional (tungku). Palotan tersebut kemudian disajikan dengan hidangan lauk pindang, rempeyek udang, sambal rempah, dan sebagai ciri khas sarapan tradisional Sumenep, di atas hidangan tersebut ditaburi parutan buah kelapa secukupnya.

” Rempeyek udang dan pindangnya benar-benar segar, benar-benar maknyus, terasa banget nikmatnya “, ujar salah seorang pegawai Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep, Ahmad Junaidi 38, Sabtu (25/1/2020)

Junaidi, mengaku penasaran dengan rasa kuliner yang mendadak nge-trend ini.

” Penasaran, bersama teman Kantor, kita gowes (naik sepeda gunung: red) ke sana. Wah, ternyata bener-bener maknyus. Apalagi kalau disantap dalam kondisi masih hangat ” katanya.

Lokasi warung palotan pindang ini terletak di pinggir jalan trotoar, lebih tepatnya di pinggir selatan Jalan Raya Manding-Dasuk, Dusun Ombaan Desa Jaba’an, Kecamatan Manding, Sumenep.

Aswani, pemilik warung palotan pindang ini menyebutkan, kuliner ini sudah familiar di kalangan masyarakat setempat sejak tahun 2011 silam dan sudah turun-temurun.

” Sebelumnya, bisnis kuliner ini dipegang Hajjah Alwiyah dan diteruskan Masriyah, ibu mertua ” ungkap Aswani kepada media ini, Minggu (25/1/2020).

Selanjutnya, Aswani mengatakan, di antara manfaat sarapan palotan ini, selain kaya dengan protein juga bagus untuk mereka yang kena penyakit ambeien.

” Begitu pengakuan salah seorang pelanggan yang sering beli ke sini tiap pagi ” tukasnya.

Para pembeli palotan pindang ini tidak hanya warga setempat, tetapi juga dari beberapa luar daerah di Madura. Tidak jarang para bule katanya juga pernah bertandang ke warungnya.

Warung kuliner tradisional khas Manding ini buka mulai pukul 06.00 pagi hingga pukul 12.00 siang.

” Hanya Rp. 10.000 saja perporsi. Selama sepekan tidak ada waktu libur, kecuali di hari-hari besar, yakni hari raya Idul Adha dan Idulfitri,” pungkasnya.

Oleh : Fendi Chovi
Editor: Mazdon
Penyelaras naskah: Abd. Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here