Sumenep, genpimadura.id – Dua Pilar Gerbang Parsanga tampak buram dan kusut. Wajar, Gerbang itu adalah sisa bangunan peninggalan Sultan Abdurrahman atau Pakunataningrat I, Putera Panembahan Somala, Raja Sumenep pada 1811-1854 M.

Gerbang itu berdiri di simpang empat, tepatnya di Jalan Raya Gapura, (sebelah barat Kantor Balai Latihan Kerja (BLK) Desa Parsanga, Kecamatan Kota, Sumenep Madura, kearah timur keraton sekitar 2 kilometer dari pusat kota.

Gerbang Parsanga itu merupakan pintu masuk menuju Taman Indralipura, nama lain dari Taman Parsanga. Taman itu menjadi tempat rekreasi, tempat bersantai atau istirahat Sultan dan rekreasi tamu-tamu dari Eropa.

Faiq Nur Fikri, salah-seorang pegiat sejarah Sumenep kepada genpimadura.id (19/06/21), mengatakan, kala itu, Taman Parsanga adalah taman agrowisata paling indah, dan menjadi tempat liburan keluarga kerajaan dan para tamu istimewa.

“Banyak tamu -tamu dari Eropa berdatangan, salah satunya Wolter Robert van Hoevell, seorang Menteri Belanda” kata Faik.

Bahkan, dalam catatan sejarah, Van Hoevell sendiri mengakui bahwa tanaman dan aneka tumbuhan, buah-buahan seperti buah jeruk, mangga, sawo, dan pohon pilihan lainnya ditanam sendiri oleh Sultan.

” Taman Indralipura ini boleh disebut terbesar, bangunannya dua lantai. Gerbang Pesanggrahan itu menjadi pintu untuk tamu-tamu dari Eropa maupun tamu istimewa kerajaan lainnya,” kata Faik.

Beberapa sumber sejarah lain lain mengatakan, bahwa berdasarkan Plakat tempat itu disebut-sebut bekas Keraton Parsanga atau Pangeran Siding Puri, padahal itu tempat persanggrahan.

“Mungkin karena luasnya. Tapi saya tegaskan bahwa itu bukan. Jarak dari era Pangeran Siding Puri ke Sultan Abdurahman itu terpaut sekitar 200 tahun, jadi saya belum bisa mengatakan itu bekas keraton,” pungkasnya.

 

Penulis : Fendi Chovi

Editor : D’ king Abdul Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here