Sumenep, genpimadura.id – Tim Satgas Covid-19 dan Disbudparpora Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur, mengeluarkan aturan teknis agar setiap Destinasi Wisata menjalankan Protokol Kesehatan dengan ketat.

Disbudparpora Kabupaten Sumenep, (melalui Imam Buchori, Kepala Bidang Pariwisata) menjelaskan ada 9 standart Protokol Kesehatan yang harus diikuti oleh pengelola wisata maupun pengunjung.

1. Thermogun

Alat pemindai suhu yang sering dipakai dan bisa diandalkan sebagai pendeteksi dini seseorang diduga terjangkit virus corona atau tidak, yaitu thermo gun.

Thermo gun memiliki bentuk seperti pistol dan cara pendeteksiannya biasanya ditembakkan ke dahi atau telapak tangan.

2. Face Shield

 

Pelindung wajah ini juga sebagai alat pelindung diri. Face Shield khusus untuk melindungi seluruh bagian wajah pemakainya agar terhindar dari marabahaya, terutama benda-benda melayang dan pecahan jalan raya maupun percikan kimia atau virus yang memiliki potensi menginfeksi.

3. Masker

Alat ini terbuat dari kain (khusus) untuk penutup mulut dan hidung dan biasanya dipakai oleh dokter maupun perawat di rumah sakit. Namun karena pandemi Covid-19 setiap orang diwajibkan menggunakan masker, terutama saat beraktifitas diluar rumah.

4. Tanda Jaga Jarak di Tempat Antrean dan Tempat Duduk

Pada setiap tempat wisata harus ada tanda jaga jarak antar pengunjung terutama di tempat antrean dan tempat duduk agar pengunjung tidak berkerumun atau saling berdesak-desakan.

5. Pintu Masuk dan Pintu Keluar Dipisah

Setiap destinasi wisata memiliki pintu masuk dan pintu keluar yang terpisah agar memudahkan setiap pengunjung untuk senantiasa menjaga jarak.

6. Tempat Cuci Tangan

(Handsanetizer)

Di setiap pintu masuk disediakan tempat untuk cuci tangan (hand sanitizer) bagi para pengunjung .

7. Poster Anjuran Menaati Prokes

Pengelola destinasi wisata perlu menempel poster yang bisa dilihat dengan jelas yang berisi ajakan, imbauan atau anjuran agar para pengunjung taat Protokol Kesehatan

8. Surat Pernyataan Pengelola Wisata

Pengelola Wisata bersedia menanda tangani Surat Pernyataan, yang isinya secara umum siap menerima pengunjung dengan syarat taat Prokes.

9. Batas Maksimum Pengunjung

Sirkulasi kapasitas pengunjung dibatasi hanya 25% untuk wilayah zona kuning, dan 50% untuk zona hijau. Jika ada yang keluar, maka diganti orang masuk baru sejumlah yang keluar.

10. Tidak Berkerumun

Pengunjung tidak berkerumun, dan pengelola harus bersinergi dengan tim kesehatan dan petugas pengurai kerumunan.

11. Menyediakan Posko/Ruang Isolasi

Para pengelola wisata diharuskan menyediakan Posko dan Ruang Isolasi disekitar atau areal wisata.

 

Penulis : Fendi Chovi

Editor : D’ King Abdul Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here