Sumenep, genpimadura.id – Ada yang menarik dari hasil perbincangan antara wartawan Genpi Madura dengan pengasuh Pondok Pesantren Sumber Batu Alfalah, Desa Soddara, Kecamatan Pasongsongan, Madura, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

KH. Kholil Kawakib namanya, seorang kiai yang sekaligus sebagai penulis buku-buku bertema keagamaan ini sempat menyinggung hal-ihwal tentang bagaimana seharusnya prinsip dalam pembangunan pariwisata di Madura.

Mantan anggota DPRD Pamekasan periode 2004-2009 ini menjelaskan, hal pertama yang perlu diperhatikan dalam pembangunan pariwisata harus mengarah pada pengukuhan moralitas dan keimanan.

Artinya, pariwisata harus tidak saling bertentangan dengan agama dan kebudayaan atau kearifan lokal. Para pelaku pariwisata dituntut tidak hanya memandang potensi alam Madura sebagai bisnis dan tempat hiburan semata.

” Dalam pengelolaannya ada sentuhan edukatif ” jelasanya kepada genpimadura.id

Selain itu, menurutnya, objek destinasi wisata yang disuguhkan kepada publik, baik berupa kekayaan alam atau budaya, setidaknya secara hukum halal dipertontonkan dan diperlihatkan.

Sarana dan prasarana pariwisata dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi dan dakwah. Dan yang paling urgen lagi adalah bagaimana pengelolaan wisata tersebut tidak sampai merusak fungsi alam berikut ekosistem yang ada di dalamnya.

” Tentunya dengan melakukan sosialisasi yang baik, koordinasi dengan semua pihak yang ada di lingkungan itu. Mereka diajak untuk mengenal pentingnya pariwisata yang ramah lingkungan dan tidak menyimpang dari kearifan lokal setempat ” urainya.

Untuk itu, warga sekitar mesti dilibatkan secara aktif, sehingga dapat memberikan andil dalam pemikiran untuk pengelolaan pariwisata yang hendak dibangun. Sehingga masyarakat jadi paham dan mengerti seperti apa dan bagaimana konsep, tujuan, dan manfaat dari pariwisata.

” Agar mereka tidak lagi beranggapan negatif. Sebab, pariwisata yang kurang koordinasi dengan masyarakat dan orientasinya sekadar bisnis semata, bukan untuk kemaslahatan bersama, seringkali menjadi sumber masalah ” terangnya.

Lebih jauh mantan legislatif Kota Gerbang Salam ini menjelaskan, bahwa potensi alam Madura amatlah banyak yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata yang menarik.

” Tentunya dengan tetap melihat sosial budaya dan sejarahnya dimana pariwisata itu hendak dibangun,” tegasnya sekali lagi.

Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bata-Bata ini kemudian menegaskan agar para pelaku wisata mahu menelaah kembali konsep-konsep dalam Alquran tentang pariwisata.

” Mengutip Alquran surat al-Ghasyiyah ayat 17-20, kan jelas Allah SWT menantang agar kita senantiasa berfikir. Baca pada ayat: maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan ” tuturnya mencontohkan.

Ia menyebutkan bahwa betapa Pulau Madura sangatlah kaya dengan aneka ragam budaya dan keindahan alamnya.

” Hal yang selama ini belum ada yang menggarapnya, suatu misal, membuat kawasan wisata peternakan. Di Madura kita tahu ada sape sonok, itu potensi daerah yang perlu dikembangkan ” katanya.

Saat menjabat sebagai anggota legislatif Pamekasan, ia mengaku seringkali berkunjung ke sejumlah daerah diberbagai provinsi dan melihat beberapa contoh warga yang sukses di bidang peternakan.

” Nah, Madura bisa mencontohnya. Semua ini sebenarnya bisa dikembangkan menjadi potensi wisata, yakni jika dikelola dengan baik dan kreatif,” pungkasnya.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here