Sumenep, genpimadura.id – Tahun 2005 lalu, UNESCO yang merupakan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengukuhkan keris yang dikukuhkan sebagai warisan budaya Indonesia.

Pengukuhan itu tidak lepas dari perjuangan sejumlah pihak, salah satunya adalah Haryono Haryoguritno. Ia adalah mantan ajudan Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno pada akhir dekade 1960-an, yang juga dikenal sebagai pakar keris.

Pengakuan dan pengukuhan itu setah dilakukan penelitian dan seleksi ratusan keris dari berbagai Daerah di Indonesia, mulai Bali, Sumatera, Yogyakarta, Solo, Sulawesi hingga Madura.

Saat ini, keris tidak lagi dianggap semata-mata sebagai benda keramat dengan unsur mistis, melainkan sebagai pusaka yang kerap digunakan untuk upacara keagamaan maupun acara resmi lainnya. Bahkan, keris sebagai pusaka yang memiliki nilai ekonomis.

Diberbagai Daerah, kepemilikan keris cukup banyak, tetapi hanya di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, perajin keris yang mengalami trend pertumbuhan yang pesat.

“Kami pernah melakukan riset sejak 2018 dengan intensif untuk melihat lapangan pengakuan UNESCO terhadap tren pengrajin dan empu keris serta tantangan pengembangan industri keris yang ada di Sumenep,” kata Unggul Sudrajat, di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang, Kemendikbud genpimadura.id, (17/07/21).

Menurut Unggul, pada saat pengusulan keris ke UNESCO pada 2004 lalu, setidaknya sudah ada 123 keris empu di kabupaten Sumenep, terutama di Desa Aengtong, Kecamatan Saronggi.

“Hari ini jumlah para pengrajin dan empu keris mencapai 815 orang yang tersebar di tiga Kecamatan, yaitu Saronggi, Bluto dan Lenteng,” ujarnya.

Jumlah itu menunjukkan bahwa Potensi Sumber Daya Manusia cukup besar, sehingga mampu melihat potensi bisnis pada keris.

“Setiap bulan ada 3 ribu bilah keris yang dihasilkan dari Sumenep. Dari 3 ribu bilah itu sebagian besar, itu terdiri dari keris kodian (itu semua keris baru), keris setengah halus kemudian, halusan atau keris berkualitas baik” imbuhya.

Dari 3 klasifikasi jenis keris itu dampak ekonominya cukup tinggi. Jika rata-rata per bilah harga keris 1 juta dan per bulan ada 3 ribu bilah keris. Maka, per bulan setidaknya ada tiga Miliar uang yang berputar di tiga Kecamatan itu. Maka alam satu tahun, setidaknya ada 36 Miliar.

Jika potensi ini tergarap dengan baik melalui Pemerintah Daerah atau Provinsi, tentu peluang ini akan menjadi satu kekuatan ekonomi yang akan mensejahterakan masyarakat.

“Paling tidak, ke depan ini akan menambah citra Sumenep sebagai Kota Keris dan memang satu-satunya sentra keris terbesar di Indonesia, bahkan di dunia,” tuturnya.

Ditengah tren pertumbuhan para pengrajin keris dan tantangan ke depan, Pemerintah Daerah Sumenep harus segera turun tangan dan menjadikan potensi ini sebagai jawaban atas pemberdayaan industri keris.

“Pasti, para pengrajin keris itu membutuhkan regulasi dan kebutuhan modal usaha dan kebutuhan terkait dan bahan untuk pembuatan warangka dan bilah keris,” pungkasnya.

 

Penulis : Fendi Chovi

Editor : Raja Abdul Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here