Sumenep, genpimadura.id – Dalam berbagai kajian sejarah, Keris adalah jenis senjata tradisional, yang telah digunakan manusia sebagai alat pertahanan diri dan simbol kebesaran kerajaan.

Keris disebut berasal dari Pulau Jawa, dan keris mulai digunakan antara abad ke-9 dan ke-14. Wajar saja jika Keris diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO tahun 2008.

Di Sumenep Madura Jawa Timur, terdapat sebuah Desa dengan mayoritas bekerja sebagai Pengrajin keris. Yaitu Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Desa ini disebut sebagai pusatnya para empu keris di Indonesia, bahkan dunia.

Di Desa Aeng Tong-tong Jumlah pengrajin keris mencapai 648 pada 2013, dan 478 empu yang masih aktif. Jumlah dan karya para empu itulah yang menjadi alasan kabupaten Sumenep mendeklarasikan diri sebagai kota keris pada tahun 2014 lalu.

Para empu keris itu sudah bekerja keras mempertahankan dan memperkenalkan keris keberbagai level hingga ke mancanegara, yang perlu dilestarikan oleh berbagai kalangan khususnya kalangan milenial.

Adalah Paguyuban Panji Jokotole, sebuah wadah yang terus bergerak, sebagai bagian dari upaya pelestarian Keris di Pulau Madura khususnya, dan Indonesia secara umum.

Sejumlah kolektor, para pecinta dan pemerhati keris itu secara rutin, menggelar pameran dan diskusi tentang masa depan keris, khususnya di kalangan pemuda.

” Kegiatan ini untuk membicarakan edukasi keris dikalangan para pemuda, atau kalangan milenial,” ujar Syaiful Anwar, penggagas Paguyuban Panji Jokotole kepada genpimadura.id (10/06/2021)

Paguyuban ini bertujuan untuk membangun sekaligus mengedukasi kaum muda tentang sejarah, jenis-jenis keris dan sisi kebudayaan keris warisan nenek moyang.

” Diskusi ini fokus mengenalkan keindahan, filosofi, juga ukiran-ukiran yang ada pada keris dan bagaimana mengkampanyekan keris di ruang publik” ungkapnya.

Menurut Anwar, keris tidaklah selalu identik dengan benda mistis, tetapi juga lebih kepada budaya yang memiliki nilai estetika tinggi.

Sementara Faisal, Ketua Paguyuban Panji Jokotole menjelaskan, edukasi keris harus dimulai dari membangun pola pikir atau pemahaman tentang pentingnya menjaga dan melestarikan budaya.

“Ada tiga aspek yang harus dimulai, yaitu Isoteri, eksoteri, historis. Isoteris fokus pada manfaat dari keris dan kedekatan emosi dengan pemiliknya. Eksoteri lebih pada nilai-nilai artistik dan wujud bendanya. Sedangkan, historis berkaitan dengan pemilik dan pemakai keris itu. Misalnya keris ini pernah dikenakan raja siapa dan dari mana, sehingga bisa diketahui ciri-cirinya,” ujarnya.

Diharapkan, kedepan Kabupaten Sumenep bisa menjadi pusat studi untuk mengkaji perihal keris. Setidaknya, ada edukasi bagi kalangan milenial untuk melihat keris sebagai kebudayan dan tahapan peradaban manusia dari masa kemasa, hingga kini.

 

Penulis : Fendi Chovi

Editor : D’ King Abdul Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here