Sumenep, genpimadura.id – Dalam berbagai kajian sejarah, Keris adalah jenis senjata tradisional, yang telah digunakan manusia sejak lebih dari 600 tahun silam.

Senjata unik ini, dapat ditemukan diberbagai Negara, seperti Indonesia, Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand selatan, Filipina selatan (Mindanao), dan Brunei.

Wajar jika Keris diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO tahun 2008, yang berfungsi sebagai senjata dan objek spiritual. Bahkan, tak jarang Keris sering dikaitkan dengan kekuatan mistik, dan diyakini memiliki semangat atau kekuatan (Khadam) tersendiri.

Pada mulanya Keris digunakan untuk pertahanan diri dan simbol kebesaran kerajaan yang berasal dari Pulau Jawa, dan keris digunakan antara abad ke-9 dan ke-14.

Di Sumenep Madura Jawa Timur, terdapat sebuah Desa dengan mayoritas bekerja sebagai

Pengrajin keris. Yaitu Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi. Desa ini disebut sebagai pusatnya para empu keris di Indonesia, bahkan dunia.

” Jumlah pengrajin keris di desa ini mencapai 648 pada 2013, dan 478 empu yang masih aktif ,” kata Ika Arista, satu-satunya empu keris perempuan di Madura, kepada genpimadura.id, (11/06/21).

Jumlah dan karya para empu itulah yang menjadi alasan kabupaten Sumenep mendeklarasikan diri sebagai kota keris pada tahun 2014 lalu.

Menurut Ika, para empu keris itu sudah bekerja keras memperkenalkan keris keberbagai level hingga ke mancanegara, dan perlu pelestarian dari berbagai kalangan khususnya kalangan milenial.

” banyak cara untuk dilakukan, misalnya mengenalkan keris dengan menfoto atau video, bisa disandingkan dengan kopi, buku atau bunga sehingga menghasilkan gambar bagus, lalu diposting keberbagai media sosial” ujarnya.

Setidaknya, keris tidak selalu identik dengan pusaka yang selalu dianggap mistik, norak atau kuno. Tetap ada unsur pendidikan sejarah, budaya, bahkan ekonomi dan kreatifitas didalamnya.

” Keris mengajarkan kita untuk melihat peradaban masa lalu, mulai dari era kerajaan Kediri, Singasari, Majapahit hingga ke Mataram,” tegasnya.

Diharapkan, kedepan Kabupaten Sumenep bisa menjadi pusat studi untuk mengkaji perihal keris. Setidaknya, ada edukasi bagi kalangan milenial untuk melihat keris sebagai kebudayan dan tahapan peradaban manusia dari masa kemasa, hingga kini.

 

Penulis : Fendi Chovi

Editor : D’ King Abdul Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here