Sumenep, genpimadura.id – Dalam berbagai literatur bahwa Anggasuto adalah Brawijaya V (Raja Majapahit Terakhir).

Diceritakan bahwa Dewa Putu Ngurah, melakukan Napak Tilas mencari leluhurnya di Madura, yang diawali oleh cerita para sepuh atau nenek moyang Dewa Putu Ngurah tentang leluhurnya yang kalah dalam peperangan, melawan Pasukan Sumenep.

Makam para kerabat dan leluhur Dewa Putu Ngurah yang ada di Madura, ditandai dengan perahu dan gamelan. Dan makam tersebut ditemukan di Desa Pinggirpapas.

Anggasuto dianggap sebagai Dewa Penyelamat oleh masyarakat Pinggir Papas. Pangeran Anggasuto, merupakan seorang tokoh yang sangat terkenal pada zamannya. Cerita masyarakat setempat, selain sakti mandraguna, Anggasuto juga memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki orang lain.

Pangeran Anggasuto dikenal sebagai tokoh yang ikutserta menyelamatkan warga Bali setelah kalah perang melawan pasukan Sumenep. Di kemudian hari atas jasanya itu, Pasukan Bali diminta mengamalkan ilmu Pangeran Anggasuto, yaitu mengubah air laut menjadi garam.

Inilah asal muasal Pangeran Anggasuto dikenal sebagai bapak Garam atau tokoh yang mengenalkan cara bertani garam kepada masyarakat di Madura khususnya di Kabupaten Sumenep.

Lama-lama pasukan Bali yang menetap di Desa Pinggir Papas dan Karang Anyar menggantungkan hidupnya dengan bekerja keras sebagai petani garam.

Para petani garam itu, sebelum mengerjakan membuat garam atau saat panen akan melakukan sowan ke kediaman Pangeran Anggasuto, dan Inilah asal muasal tradisi ritual Nyadar atau Nadar bagi masyarakat petani garam sekaligus sebagai bentuk penghormatan pada leluhur mereka, khususnya Pangeran Anggasuto.

” Nyadar satu dan dua ditaruh di Desa Pinggir Papas dan Desa Kebundadap, sedangkan Nyadar terakhir di rumah masing-masing,” kata Fadel Abu Aufa kepada genpimadura.id, (23/07/2021).

Tradisi Nyadar berjalan secara turun temurun dan dilakukan dengan rangkaian kegiatan, mulai dari pengumpulan kembang tujuh rupa, sejumlah jenis makanan, serta keperluan lainnya untuk dibawa nyekar ke Makam Syaikh Anggasuto, Syaikh Kabasa, Syaikh Dukun.

” Nyekar sendiri dilakukan oleh tetua yang memiliki ikatan darah dengan Pangeran Anggasuto. Nanti warga akan diberi air dan bedak yang dioleskan kewajah, tangan dan leher. Bedak dan air itu dipercaya untuk menjauhkan penyakit, dan dilimpihkannya rezeki dan usaha lancar,” kata Fadel.

Makam Pangeran Anggasuto terletak di Asta Gubang, Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

 

Penulis : Fendi Chovi

Editor : king Abdul Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here