A. Faidlal Rahman, SE.Par, M.Sc

Orang Madura tidak perlu pergi keluar kota sampai ke luar negeri untuk bisa hidup sentosa dan sejahtera. Orang madura tidak perlu takut menjadi kaya di tanah kelahiran sendiri!

Demikian ungkap salah seorang pakar muda pariwisata yang bertanah kelahiran Sumenep, Madura, Jawa Timur. Dia adalah seorang peneliti, motivator, dan dosen pariwisata dan perhotelan di salah satu universitas ternama di Indonesia, yaitu Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur.

Ahmad Faidlal Rahman, begitulah orang mengenalnya, merupakan pakar muda pariwisata yang sangat familiar dan sudah tidak asing lagi dalam dunia pariwisata. Dia merupakan satu-satunya putra Madura yang konsisten dalam bidang pariwisata.

Lahir di desa dan mengeyam pendidikan lokal tidak menjadikannya surut meniti karir dan impiannya menjadi orang yang ahli dalam dunia pariwisata.

Kecintaannya dalam dunia pariwisata, diawali dari kesukaannya menekuni Bahasa Inggris sejak mondok. Seringkali dia diminta menjadi guide dan mendampingi setiap wisatawan asing yang datang berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Setelah lulus dari pondok pesantren TMI Al-Amien Prenduan, dia kemudian melanjutkan pendidikan S1 Manajemen Pariwisata di STMP ARS Internasional Bandung, S2 Kajian Pariwisata UGM. Saat ini dia sedang melanjutkan studi doktor bidang pariwisata di Universitas Udayana Bali.

Selama menempuh pendidikan S1 sampai S3 ini, dia mendapatkan beasiswa. S1 diperoleh karena menang pidato Bahasa Inggris se-Jawa Barat, S2 dari Tokyo Foundation Jepang dan S3 dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Faid, panggilan akrabnya, yang baru saja merayakan ulang tahun ke 38 pada bulan Februari itu kini tinggal di Kota Wisata Batu bersama istrinya Herlin Kurnia Sari, SP., M.Agr, juga dengan tiga buah hati mereka yang senantiasa menyemangatinya: Alifiya Rizki Karisma Sari (12), Alfian Dzakiyatur Rahman (7), dan Aulia Nabila Ramadhani (2,5).

Keaktifan dan keseriusannya mempelajari pariwisata telah mengantarkannya dipercaya oleh beberapa pemerintah daerah di Jawa Timur dalam menyusun dokumen perencanaan kepariwisataan dan memberikan pelatihan kepariwisataan. Bahkan dia juga merupakan sosok konseptor dan designer dokumen perencanaan kepariwisataan di Madura.

Kontribusi gagasan dan pemikirannya tentang pengelolaan dan pengembangan sektor pariwisata di beberapa daerah di Jawa Timur menjadikannya sebagai ‘tangan’ kepercayaan pemerintah, sebagai Tenaga Ahli Walikota Batu Bidang Pariwisata.

Saat ini dia sering diminta pandangannya dalam pembangunan kepariwisataan dan membantu penyusunan dokumen pasar pariwisata Kota Batu, dan acap kali pula dilibatkan dalam perencanaan pengembangan sejumlah tempat destinasi wisata di Jawa Timur.

Setelah kenyang oleh pengalaman dan puluhan tahun duduk di bangku perkuliahan, anak muda yang sedang mengelola Perusahaan Konsultan Pariwisata itu kini berkeinginan kuat untuk membangun tanah kelahirannya, Madura.

Madura, kata Faid, merupakan salah satu pulau yang menyimpan unik kekayaan alam, budaya, tradisi, dan keberagamaan yang cukup kental. Orang Madura katanya tidak baik merasa pesimis apalagi takut untuk mengembangkan potensi sumber daya alam (SDA) yang luar biasa ada di dalamnya.

Direktur Pusat Pariwisata Nusantara ini lalu mengungkapkan, bahwa Madura punya apa yang tak dimiliki Bali. Bali menang hanya karena berhasil melakukan perpaduan budaya, tradisi, dan agama, yang kemudian menjadi ciri khas dan dikenal.

“Apa yang bisa dilihat dari Bali? Hanya Pantai Kute, masih lebih bagus (Pantai, red) Lombang sama Slopeng. Pulau Penida yang sekarang terkenal itu, masih lebih bagus Kangean dan Arjasa, itu kalau mau dibangun. Apalagi, bahkan Sumenep saja kan punya 126 pulau,” tutur Faid kepada Genpimadura.id, Sabtu (8/2/2020).

“Jadi, DNA-nya (modal awal, red) Bali itu kan sebenarnya antara lain budaya, tradisi, dan agama yang kemudian dipadukan menjadi sesuatu yang kental, menjadi kebiasaan, dan menjadi ritual. Nah, itu sebenarnya yang langka sehingga menarik minat para wisatawan,” simpul dia menguraikan.

Madura juga punya modal awal tersebut. Hanya saja agama, budaya, dan tradisi masyarakat Madura tentu tidak sama dengan Bali. Perbedaan itu menurutnya justru akan menjadi kekuatan lain yang dapat memantik minat wisatawan.

“(Madura, red) Islam dengan (Bali, red) Hindu, kan. Ini adalah kekuatan. Tinggal akses (infrastruktur, red) dan terutama juga packaging-nya yang perlu dimaksimalkan,” ujarnya menegaskan.

Dari segi pintu akses, menurutnya Bali juga kalah dengan Madura. Kalau Bali hanya punya dua pintu akses: laut dan udara, Madura punya tiga pintu akses, yaitu: darat, laut, dan udara. Ini merupakan salah satu keunggulan Madura dibanding Bali yang, pada prinsipnya, lagi-lagi dapat dijadikan modal awal untuk membangun pariwisata Madura ke depan.

Lebih lanjut peneliti muda yang hobi travelling itu menjelaskan, Bali berhasil karena masyarakatnya mampu menunjukkan karakter kedaerahan dan bangga dengan adat yang disandangnya. Kemana-mana orang Bali senantiasa bangga mengenakan pakaian khas kedaerahan dan tidak malu mempromosikan adat setempat.

“Jadi, ada semacam penanaman kesadaran, semangat dan spirit kebanggaan (terhadap, red) daerahnya: O, saya Bali saya Bali. Kalau keluar tidak bilang: saya Denpasar saya Bandung, tapi saya Bali saya Bali,” ujarnya mencontohkan.

Diterangkan lebih gamblang, dalam pembangunan pariwisata, Madura tidak harus menjiplak bangunan wisata yang ada di Bali. Kalau di Bali para wisatawan dengan mudahnya berpakaian bikini di pantai-pantai, maka wisatawan yang masuk berwisata ke Madura harus menyesuaikan dengan agama dan adat setempat.

“Kita tidak harus sibuk ikut gaya-gaya Barat, kita harus bangga dengan sosial budaya kita, dengan tradisi kita,” tegasnya.

Dengan cara mempertahankan norma dan adat setempat menurutnya tidak akan menjadi penghalang untuk dapat menarik minat wisatawan berkunjung ke Madura. Sehingga jika itu tercipta, maka otomatis laju perekonomian semakin maju, dan orang Madura tidak perlu lagi bekerja ke luar negeri meninggalkan sanak-saudaranya.

Corak adat dan keagamaan orang Madura yang masih berpegang teguh pada adab dan etika keislaman tetap harus menjadi prinsip utama dalam pengelolaan pariwisata. Yang perlu dicontoh Madura dari Bali adalah bagaimana agama, tradisi, dan budaya yang ada dapat dipadukan menjadi sebuah keunikan, “yang mungkin tidak akan ditemukan di daerah lain,” timpalnya.

Faid menegaskan, Madura mesti menyempurnakan bangunan tempat-tempat wisata dan mulai menggagas ikon wisata di beberapa tempat. Dengan catatan, bahwa pengelolaan pariwisata tidak boleh melanggar atau mengesampingkan norma adat, agama, dan sosial-budaya setempat.

“Jadi, pariwisata itu harus adaptif. Pariwisata itu adalah industri yang menjaga, melestarikan, dan menyejahterakan (masayarakat, red), bukan industri yang merusak,” tukasnya.

Dijelaskan, persoalan tersebut butuh perhatian pemerintah, yakni memberikan keleluasaan kepada masyarakat dan pihak investor agar bisa mengelola dan mengembangkan potensi pariwisata di Madura. Pemerintah dan ulama setempat dalam hal ini cukup menjadi fasilitator, motivator, dan sekaligus menjadi kontrol sepanjang proses pembangunannya. Dikawal melalui regulasi pemerintah, pesannya penuh harap.

Sebelum menutup pembicaraan, Faid menyampaikan, pemerintah di Madura katanya tidak perlu khawatir soal siapa dan berapa jumlah wisatawan yang akan berkunjung.

“Selagi stakeholder konsisten dalam mempertahankan keunikan dan kekhasan Madura, saya yakin suatu saat Madura akan banyak dikunjungi dan dikenal oleh masyarakat luas,” ujarnya.

“Pasar (wisatawan) tidak akan menjatuhkan pilihan (choice) dalam mengujungi suatu destinasi pariwisata, jika tidak ada perbedaan,” pungkasnya menambahkan.

Penulis: Mazdon
Editor: Abd. Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here