Sumenep, genpimadura.id – Pada abad ke-15 silam, tepatnya pada masa kejayaan Parabu Menak Senaya, Pamekasan Madura, berkembanglah sebuah tontonan rakyat, yaitu Topeng Dalang.

Pada mulanya Topeng Dalang hanya dijadikan tontonan khusus untuk keluarga kerajaan, sementara masyarakat luas tidak bisa menikmati pertunjukan ini.

Menurut sejarah, kehadiran Topeng Dalang disebarluaskan oleh Te Arje Ningprang khusus ke Kabupaten Sumenep, pada masa berikutnya, sehingga Topeng Dalang tidak lagi menjadi tontonan khusus bagi keluarga besar kerajaan, melainkan menjadi tontonan rakyat.

Alhasil, Topeng Dalang semakin banyak digandrungi hingga keseluruh pelosok di Madura, termasuk Kabupaten Sumenep, hingga kini.

Topeng Dalang adalah salah satu seni pertunjukan rakyat, dimana aktor atau pemeran menggunakan Topeng (penutup muka) yang disesuaikan dengan karakter tokoh yang dimainkan.

Dengan diiringi musik tradisional gamelan Madura, Sang pemeran hanya memainkan gerak tubuh atau muka, menyesuaikan dengan hentakan musik dan alur cerita yang dibawakan oleh Sang Dalang. Sementara Sang Dalang sendiri bermain dibalik panggung.

Hal tersebut diulas oleh Akhmad Hasan, salah-seorang pegiat Topeng Dalang asal Desa Marengan Laok, Kecamatan Kalianget, Sumenep Madura Jawa Timur.

“Bentuk pada perwajahan topeng memiliki karakteristik tersendiri. Setiap pementasan topeng, ada bentuk topeng yang beraneka ragam, yang mewakili sifat, nama tokoh dan terlihat dari bentuk warna,” kata Akhmad Hasan.

Menurut Hasan, setiap topeng mewakili watak dari masing-masing tokohnya. Biasanya terlihat dari warna, mata, hidung, alis, mulut dan jenggot.

“Warna merah identik pada tokoh yang dinamis, gagah dan ini mewakili para kesatria dan raksasa” Jelasnya.

Sedang warna emas, kata Akhmad Hasan, melambangkan sifat para tokoh yang anggun dan lembut, warna kuning menunjukkan karakter mulia dan agung. Warna hijau lebih ke tokoh yang berdedikasi dan kemuliaan, warna hitam menunjukkan warna luhur, arif dan bijaksana.

Pementasan topeng, kata Akhmad Hasan, baiasanya mengisahkan dan menceritakan tokoh Mahabrata dan Ramayana.

“Para tokoh yang ditampilkan juga menggunakan nama-nama dalam kisah Mahabrata, seperti Arjuna, Bima, Durna dan Brotoseno dan Srikandi,” ujarnya.

Namun, bentuk topeng hasil karya Akhmad Hasan, berbeda dengan topeng yang lain yang ada di Madura, yaitu pada bagian kepala terdapat hiasan melati dan matahari dan ukiran lebih halus pada bagian wajah.

Penulis : Fendi Chovi
Editor : Abd. Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here