Sumenep, genpimadura.id – Rumah Batik Mantaka (RBM) merupakan salah satu sentra kerajinan batik tulis yang berlokasi di Dusun Saro’an Laok, Kelurahan Gapurana, Kecamatan Talango, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Penamaan Mantaka diambilkan dari nama pena pendirinya, Aliman Taka, dengan nama asli Ali Makki. Ali, sapaan akrabnya, mulai merintis dunia batik sejak tahun 2018 lalu.

Ia mengaku telah menekuni dunia kerajinan batik sudah sejak tahun 2011 dan terus eksis hingga saat ini. Karya batik tulis yang dirintisnya mayoritas memiliki ciri khas atau karakter motif kontemporer, pakem, dan mitologi.

” Saya memperkenalkan batik Madura khususnya Sumenep dengan motif-motif mitologi, baik di (jenis gambar) flora maupun fauna. Semisal keris, di sini saya mengangkat dari segi pamor-pamornya, seperti malate satoor, jhudhâ gâdhâ, dan yang lain semacamnya,” urainya kepada genpimadura.id, Kamis (12/3/2020).

Pakem itu sendiri, sambungnya, adalah batik yang memang sudah memiliki patokan tersendiri sejak jaman dahulu hingga sekarang. Namun demikian, setiap motif menurutnya bisa digandakan dan menyajikan makna yang beragam.

” Pakem tetap dipertahankan, namun setiap motif seperti motif keris, misalnya, kita bisa keluar dari motif yang seharusnya tapi tetap berpatokan pada pakem yang telah ada ” jelasnya.

Untuk jenis batik kontemporer, menurutnya bersifat bebas atau keluar dari pakem, tidak terikat dengan aturan-aturan membatik yang telah baku.

” Kalau mitologi itu, kita ambil gambar-gambar yang sudah ada, seperti wayang dan lain-lain, kemudian kita kombinasikan dengan kontemporer dan pakem ” ujarnya.

Lelaki yang acapkali tampil di acara-acara kesenian dengan tarian sufinya ini lebih lanjut mengutarakan, untuk hal pewarna batik, dirinya biasa menggunakan dan mencoba semua ragam pewarna, dari yang mengandung kimia sampai pewarna yang alami.

” Tapi menurut saya lebih bagus alam, Mas. Soalnya itu semua kan dari alam, bedanya itu kalau alam lebih ke elegan dan kalem. Kalau kimia lebih ke cerah dan warna lebih mencolok ” urainya tegas.

Seniman Pulau Talango yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini mengaku, termotivasi untuk terus menekuni dunia batik, karena menurutnya, kerja membatik merupakan salah satu ikhtiyar untuk merawat, menjaga, dan melestarikan budaya leluhur.

” Seni budaya leluhur itu bisa dikombinasikan dengan perkembangan pemikiran modern. Setiap kali membatik, kita seakan-akan sedang menjadi sastrawan yang menorehkan sebuah puisi,” ujarnya.

Ia mengaku sering mendapatkan ide imajinatif saat membatik. Sebab, selain aktif membatik, dirinya juga masih aktif didunia panggung teater. Sehingga karyanya tidak jarang dihasilkannya saat berlatih teater dan manggung.

” Saat berlatih (teater, red), imajenasi saya seperti terbang ke arah penonton, sambil lalu menganalisa fenomena alam sekitar. Dan di saat itu pula, pikiran saya seperti sedang berada dalam cerita para leluhur,” ungkapnya.

Kini rumah produksi batiknya telah terkenal ke seantero Nusantara. Bahkan, karya batik tulisnya laris terjual hingga ke mancanegara.

” Alhamdulillah, pengiriman batik Mantaka sudah sampai ke mancanegara. Kita pasarkan lewat media sosial saja. Pembeli karya kami diantaranya ada dari Malaysia, Hongkong, Taiwan, dan Rusia,” bebernya penuh syukur.

Sedangkan untuk pembeli dari dalam negeri sendiri diantaranya berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jakarta, Bandung dan sejumlah daerah di Jawa Timur.

Seniman penyuka musik sufi ini menyebutkan, sehelai batik yang diproduksinya rata-rata bersifat terbatas (limited edition).

” Jadi, pembeli itu harus memesannya jauh-jauh hari, Mas. Soalnya banyak pesenan, atau mereka biasanya langsung datang ke sini. Mereka juga boleh belajar membatik bersama kami,” imbuhnya.

Sebelum menutup pembicaraan, Ali menyebutkan patokan harga batik tulis buatannya. Untuk motif pakem dipatok dengan harganya standart, mengikuti harga pasaran.

“Untuk yang kontemporer dan mitologi, jika menggunakan bahan kimia atau dari pabrikan, berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 1.000.000. Kalau berbahan alam harga bisa mencapai Rp 1.500.000 hingga Rp. 5.000.000 ke atas,” tandasnya.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here