Sumenep, genpimadura.id – Kehadiran para pegiat kerajinan batik tulis di desa perlu diapresiasi. Seperti yang dilakukan Ummul Khair (24), perempuan kelahiran Desa Nyabakan Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Perempuan yang pernah menjadi Duta Wisata Sumenep 2017 ini menggagas berdirinya Komunitas Lebur Batik di desanya sejak Bulan Maret 2019 silam.

Warga sekitar sangat antusias menyambut kehadiran komunitas ini. Sebab, tujuan utama didirikannya komunitas ini adalah demi memberikan ruang kreativitas bagi masyarakat dan pemuda sekitar. “Sehingga aktivitas positif tidak melulu bertumpu di kota saja,” ujarnya.

“Kita bersama-sama belajar membatik dalam kain panjang bentuk sampir. Motif kita sesuaikan dengan keinginan pemesan, made by order,” imbuhnya.

Saat ini, kerajinan Lebur Batik yang ditekuninya menekankan pada bentuk kain batik, bukan busana baju batik. Mereka kini sudah sampai pada tahap pengenalan batik tulis kontemporer nusantara.

Ummul mengungkapkan, kegiatan membatik bagi warga Madura menurutnya bukan semata tentang sehelai kain, tapi lebih pada ikon budaya. Setiap motif dan warna harus merefleksikan karakter masyarakatnya.

Namun demikian, Lebur Batik saat ini katanya masih fokus pada motif batik tulis dengan corak karya bernuansa alam dan sejarah.

“Tetap menggunakan cara tradisional, ditulis dan diberi pewarna yang ramah lingkungan,” tukasnya.

Tidak hanya itu, Komunitas Lebur Batik katanya juga melakukan pelatihan membatik secara gratis bagi masyarakat dan siswa, terutama pemuda yang putus sekolah dan pengangguran.

Kepada genpimadura.id Ummul Khair mengaku, motivasi awal yang membuatnya tergugah untuk mendirikan komunitas ini bermula saat dia melihat pemuda sekitar yang hanya kelayapan kesana kemari tanpa aktivitas positif.

“Lalu saya berpikir, kegiatan membatik ini merupakan solusi bagaimana menciptakan kegiatan positif sekaligus menjadi peluang kerja bagi para pemuda desa,” katanya.

Dia mengaku terinspirasi oleh pernyataan Presiden ke-2 Indonesia Soeharto bahwa Indonesia tidak akan menyala hanya dengan satu lilin besar di kota, tetapi Indonesia menyala dengan lilin-lilin kecil di desa-desa.

Perempuan yang aktif menjadi pemandu wisata ini berharap agar gerakan membatik yang digagasnya ini mendapat dukungan semua pihak, terutama dari pemerintah. Ia punya niat membangun sumber daya manusia, khususnya di kalangan pemuda dan pemudi.

“Mudah-mudahan ini menjadi awal lahirnya entrepreneur muda di kampung halaman ini,” tuturnya penuh harap.

Dirinya optimis, jika komunitas membatik mendapat dukungan masyarakat dan instansi pemerintah setempat, maka kehadirannya kelak akan memberikan dampak yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi kawasan pedesaan, khususnya di Desa Nyabakan Timur.

“Para pembeli berasal dari beberapa kalangan, tapi yang dominan dari kalangan pendidik. Ada sekitar 57 pcs seragam sekolah dan beberapa pimpinan lembaga pendidikan, mereka memesan batik tulis secara khusus,” bebernya.

Terakhir, Ummul mengaku akan mengupayakan pelatihan membatik dengan maksimal, termasuk bagaimana menjadikan Nyabakan Timur sebagai kawasan pengrajin batik.

“Sampai menjamur, sampai mereka mampu membuka usaha butik batik sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here