Sumenep, genpimadura.id – Keris adalah salah-satu kekayaan budaya tanah air Indonesia. Pada mulanya keris sebagai senjata khas suku Melayu lalu menyebar ke seluruh Nusantara.

Sebagai sebuah senjata, keris mempunyai keistimewaan tersendiri, selain pamor didalamnya terdapat keunikan dan kerumitan yang memerlukan pemikiran dan keahlian khusus.

Selain itu, keris sering selalu identik dengan mitos dan kepercayaan tentang kekuatan adikodrati, supranatural dan mistik, sehingga diyakini dapat membantu manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan, tak terkecuali soal kekuasaan.

Menurut sejarah, keris di Sumenep sudah ada sejak masa Ju’ Pandhi, tepatnya pada pertengahan abad ke-19.

Dalam perkembangannya, produksi keris di Sumenep mengalami pasang surut karena faktor represi dari penguasa kolonial Belanda dan Jepang.

Di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, juga sempat terhenti setelah mengalami represi dari Pemerintah Belanda dan Jepang di paruh pertama abad ke-20. Yakni pada masa penjajahan Jepang (1942-1945) dan Belanda (1800-1942).

“Pengrajin keris di era penjajahan Belanda sempat mengalami vakum karena tidak sedikit para pengrajin keris itu yang harus berhadapan dengan kolonial,” kata Ketua Paguyuban Galeri Pelar Agung, Sanamo kepada genpimadura.id, di sela-sela saat menempa keris ciptaannya yang keseribu.

“Ceritanya dulu seperti itu, karena dulu, orang yang punya kemampuan, istilahnya membuat keris, atau bikin jimat, atau apalah istilahnya, itu orang yang seperti itu dibunuh, Mas” ungkap pria yang mengaku sudah menekuni keris sejak kelas VI SD ini.

Lanjut Sanamo, akibatnya banyak pengrajin atau empu-empu keris itu yang meninggalkan pekerjaannya.

“Ada sebagian yang masih kerja, tapi itu, kalau kata oreng Madura leng-ngaleng (sembunyi-sembunyi),” ungkapnya.

Sanamo menjelaskan jika beberapa koleksi keris karya pengrajin keris waktu itu kebanyakan di pendam di dalam tanah dan di rumah-rumah warga setempat.

“Tidak jarang beberapa tahun kemudian koleksi mereka ditemukan warga setempat, saat mereka menggali tanah, membuat sumur dan membangun rumah,” ujarnya.

Namun kata Sunamo, setelah kemerdekaan, industri keris kembali berkembang dengan berpusat di tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Bluto, Saronggi, dan Lenteng.

Saat ini keris, kata Sunamo, terdapat dua versi dalam pembuatannya, pertama keris souvenir atau keris yang dijual belikan, kedua keris ageman, keris yang dibuat khusus untuk pemesan dan penciptaannya memakai ritual khusus.

“Alhamdulillah, hingga saat ini perajin keris di Desa Aeng Tong-tong tahu tata cara pembuatan keris ageman, ada bacaan-bacaan khusus dan ritualnya, mas,” ungkap Sanamo.

Keris Aeng tong-tong memang dari jaman dahulu sudah terkenal tidak hanya dalam negeri, tetapi juga hingga luar negeri. Hanya saja selama itu pula tidak ada bukti resmi dari pemerintah, dan baru pada tahun 2018, secara resmi Pemerintah Kabupaten Sumenep mengakui Aeng Tong-tong sebagai Desa Keris.

Alhasil, keris berkembang tidak hanya sebagai senjata, benda mistik, namun juga bernilai artistik (seni) dan ekonomi.

Apalagi, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan Sumenep sebagai perajin keris terbanyak se Asia Tenggara.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here