Miskali, salah satu guide di Sumenep

Sumenep, genpimadura.id – Sejumlah pemandu wisata di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengaku kehilangan pekerjaan saat pandemi Covid-19.

Terlebih, pemerintah memberlakukan penutupan sementara semua destinasi wisata yang ada di kabupaten paling timur pulau Madura ini.

Miskali, salah-seorang pemandu wisata di Kabupaten Sumenep, mengaku bingung dengan kondisi saat ini. Pasalnya, ia tidak lagi bekerja lantaran semua destinasi wisata ditutup.

” Covid-19 sudah hampir tiga bulan berjalan, saya sebagai pemandu wisata juga terkena dampaknya, ngga punya pekerjaan lagi hingga saat ini,” ungkap Miskali (34), kepada genpimadura.id

Miskali adalah Anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Timur, yang sudah bertahun-tahun menjadi pemandu wisata. Ia mengaku bahwa saat lebaran dan sesudah lebaran biasanya merupakan momentum paling dinanti para pengunjung untuk menikmati liburan.

” Saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan mengais rejeki dari para wisatawan di bulan itu sebagai pemandu wisata dan bulan itu merupakan paling banyak-banyaknya pengunjung,” ujarnya.

Pria kelahiran pulau Gili Genting ini berharap agar pemerintah juga ikut memikirkan nasib para pemandu wisata, yang kehidupannya bergantung dari pekerjaan sebagai pemandu.

” Saya memiliki pemasukan keuangan seperti pekerja pada umumnya. Minimal dalam sebulan, saya mendapatkan pemasukan setara Upah Minimum Regional (UMR) kabupaten Sumenep dari kegiatan memandu wisatawan,” ujarnya.

Ia menegaskan jika dirinya sudah bekerja sebagai pemandu wisata semaksimal mungkin untuk mempromosikan kabupaten Sumenep.

” Perlu diketahui jika pemandu wisata menjadi ujung tombak pariwisata. Kami pejuang terdepan Visit Sumenep karena pemandu lah yang memberikan informasi ke setiap tamu yang datang” tegasnya.

” Saat kami kehilangan pekerjaan saat ini. Kami membutuhkan bantuan dari pemerintah, paling tidak destinasi wisata dibuka lagi, karena yang merasakan dampaknya adalah kami,” ujarnya.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada kepastian dari pemerintah kabupaten Sumenep untuk memberi kesempatan penghidupan melalui sektor Pariwisata.

Menurutnya, menjadi pejuang Visit Sumenep hanya ada dua pilihan, mengikuti aturan pemerintah atau kelaparan di tengah pandemi covid-19.

” Kami untuk bertahan hidup harus meminjam dan berhutang kepada keluarga dan teman-teman. Hutang kami mulai banyak karena pekerjaan memandu sepi orderan,” pungkasnya, (FC).

Penulis : Fendi Chovi
Editor : Abd. Rahem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here