Sumenep, genpimadura.id – Didirikannya Galeri Pelar Agung di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Madura, Jawa Timur rupanya berdampak cukup signifikan bagi kesejahteraan para empu keris setempat.

Galeri tersebut merupakan tempat khusus untuk memajang koleksi keris di kawasan para pengrajin keris terbesar di kota Sumekar.

“Galeri ini memang dibuat untuk menampung hasil kreatifitas para pengrajin pusaka keris. Didirikan pada tahun 2018 silam. Apalagi, saat ini Desa Aeng Tongtong kan dah mulai dikenal sebagai desa wisata keris,” beber Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Aeng Tongtong, Sanamo (50), kepada genpimadura.id, Senin (24/02/2020).

Selain sebagai tempat menampung koleksi pusaka andalan karya para empu, sambung dia, didirikannya Galeri Pelar Agung adalah agar budaya pembuatan keris di kalangan anak muda terus eksis, termasuk juga demi tetap luhurnya sejarah perkerisan di Desa Aeng Tongtong. “Regenerasi perawatan dan pelestarian sejarah,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, fungsi dari galeri keris menurutnya dapat menjadi wahana silaturrahmi antar para pengrajin keris. Di Galeri Pelar Agung, para empu dapat saling bertukar pendapat tentang pembuatan keris.

Saat ini, sebut Sanamo, jumlah pengrajin keris di Desa Aeng Tongtong berjumlah sebanyak 478 orang dan, ada sekitar 60 koleksi pusaka keris yang dipajang di Galeri Pelar Agung.

Para pengunjung yang datang bertandang ke desa ini dapat menyaksikan langsung seperti apa hasil karya para empu di sini.

Kordinator Pengrajin Keris Aeng Tongtong ini menyebutkan, tidak jarang para pengunjung yang datang tertarik untuk memiliki salah satu keris yang dipajang.

“Saat berkunjung ke Sumenep, Ustad Yusuf Mansur itu bahkan sempat beli keris yang seharga Rp 47 juta,” ujarnya.

Patokan harga untuk setiap keris katanya tergantung nilai seni, bentuk, dan tingkat kerumitan serta waktu pengerjaannya. Mulai yang terendah seharga Rp. 400.000 hingga puluhan juta rupiah.

Beberapa waktu lalu, bebernya lebih lanjut, ada pejabat dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Surabaya yang membeli salah satu keris ciptaannya seharga Rp 20 juta. “Barangnya istimewa, ada pasangan (bahan, red) emasnya,” timpalnya.

Empu yang karyanya laku, lanjut dia, diwajibkan menyumbangkan 10 persen dari total hasil penjualannya untuk kas dan pengembangan Galeri Pelar Agung.

Sebelum menutup keterangan Sanamo mengutarakan, pihaknya bersama para empu setempat terus berupaya menciptakan terobosan dan gencar mempromosikan pusaka ciptaan mereka.

“Kita kenalkan pusaka kita di beberapa kota besar di Nusantara. Seperti Jakarta, Yogyakarta, Blitar, Malang, terutama saat ada wisatawan mancanegara yang berkunjung naik ‘Kapal Pesiar’ ke Sumenep.

“Kemarin di Museum Keraton Sumenep, rombongan Wisman dari Belanda, Thailand, Romania, dan Malaysia,” tukasnya.

“Juga para pengunjung dari Bulgaria beberapa waktu lalu bahkan sampai menginap berhari-hari di sini, ya itu, untuk menyaksikan proses pembuatan keris,” pungkas Sanamo.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here