Sumenep, genpimadura.id – Di antara kuliner khas Sumenep Madura Jawa Timur adalah ‘Campor’. Sajian dan bahannya tidak jauh beda dengan ‘soto’ yang kini telah terkenal di seantero Nusantara dengan sebutan ‘Soto Madhurâ’.

Warung Campor yang dikunjungi Genpi Madura kali ini, adalah warung campor Bu Yati. Warung Campor Bu Yati, begitu orang menyebutnya, berlokasi di Desa Ellak Daya, atau lebih tepatnya di sebelah timur Kantor Kecamatan Lenteng, Sumenep.

Tidak hanya di Bu Yati, di sepanjang Jalan Raya Lenteng Sumenep, para pengendara biasanya sudah dapat melihat sejumlah warung campor khas Lenteng, walaupun tidak berjejer.

Jika saat pagi atau sore hari sedang tak berselera makan di rumah, sudah menjadi kebiasaan, masyarakat pedesaan di kabupaten berlambang kuda terbang ini sarapan di warung-warung terdekat.

Mereka kemudian membeli sepiring makanan pengganti seperti ‘Campor’ yang akan Genpi ulas kesempatan ini.

Makanan mirip soto dengan nama Campor ini dapat kita temui di pinggir sepanjang jalan kecamatan, terutama di kawasan desa pedalaman di kabupaten paling timur ujung Pulau Madura.

Makanan ini tergolong dalam makanan berkuah, berbahan utama lontong, suun, touge gereng, potongan daging berbentuk dadu ini mirip dengan soto.

“Menurut saya, perbedaan antara soto dan campor itu hanya karena kuahnya. Kuah campor memakai ulekan kacang halus dan bersanta ,” ujar Yati (42) penjual campor, Sabtu (22/2/2020).

“Di sini pernah ada yang bilang, akan dijadikan tempat wisata kuliner khas Lenteng. Entah, saya lupa siapa yang bilang,” imbuhnya.

Salah seorang pelanggan asal Kota Tua Kalianget, Ubay, mengatakan, sering saat pagi atau sore dia berangkat dari rumahnya ke Lenteng hanya untuk membeli sarapan campor.

“Istri dan anak saya doyan banget, Mas. Kalau pas suasana tenang, ngumpul bareng keluarga, saya berangkat beli campor untuk mereka di sini,” ungkapnya kepada Genpi Madura.

Dia lalu berpendapat, menurutnya, antara campor yang ada di desa-desa lain dengan Campor Lenteng itu sangat kentara bedanya.

“Menurut saya ini, ya, kalau campor khas Lenteng itu biasanya kuahnya merah, pakai kacang, potongan daging bentuk dadu, dan kadang-kadang ada yang pakai udang,” katanya.

Ubay adalah penikmat kuliner dengan cita rasa pedas. Jadi, sambung dia, kalau pas lagi galau, biasanya langsung dia makan campor di tempat, “porsi sambal boleh ditambah, sehingga rasa pedasnya pun terasa,” timpalnya.

Di ‘Warung Bu Yati’, begitu Ubay menyebutnya, pembeli diberi keleluasaan untuk menambah kuah atau makanan lain yang tersedia di dalamnya.

“Bisa menyesuaikan selera masing-masing. Jika pembeli menyukai selera manis, tinggal tambah kecap,” ujarnya.

“Agar tambah kenyang, sekalian kalau akaj suka membubuhkan bakwan goreng, ote-ote, kurket singkong, dan gorengan-gorengan lain yang ada di sini,” imbuhnya.

Nah, jika Anda penggemar kuliner, tidak ada salahnya Anda coba kuliner khas Kecamatan Lenteng yang satu ini.

Harga perporsi hanya Rp 7.000. Jika Anda punya uang Rp 10.000, maka berarti Anda sudah dapat menikmatinya, berikut dengan kerupuk, gorengan, dan air mineralnya.

Penulis: Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here