Sumenep, genpimadura.id – Ikhsan Rosyid, salah-seorang dosen ilmu sejarah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga Surabaya memaparkan, keberadaan Museum, khususnya di Kabupaten Sumenep, perlu ditingkatkan sebagai pusat pembelajaran agar menarik pengunjung.

Selain itu, museum juga perlu ditata secara tampilan, khususnya koleksi yang ada dan kalau perlu diganti tema secara periodik.

” Kalau perlu menggandeng lembaga lain untuk mobilisasi serta menyelenggarakan event-event secara berkala dan konsisten, termasuk memasukkan dalam agenda wisata lokal, Daerah, Nasional dan Mancanegara ” ujarnya kepada genpimadura.id, Jumat 13 Maret 2020.

Menurutnya, agar di lokasi yang berdekatan dengan museum diperbanyak spot-spot destinasi wisata, semisal memunculkan wisata edukasi, wisata industri, wisata budaya dan wisata bahari.

Hal itu perlu dilakukan demi menarik kunjungan wisatawan, sehingga menyokong Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menurut Ikhsan Rosyid, selama ini mayoritas museum di Indonesia lebih sebagai gudang koleksi peninggalan sejarah yang dipamerkan dan bersifat statis. Padahal museum harusnya menjadi pusat pembelajaran yang menampilkan koleksi-koleksi benda bersejarah yang berkesan menyenangkan.

” Maka, tidak jarang museum terkesan hidup segan mati tak mau, padahal dari museum kita bisa belajar apa saja, hanya saja karena tidak menarik dan menyenangkan, khirnya sepi pengunjung,” ujarnya.

Karena tidak terkelola dengan baik, lanjutnya, berdampak sedikitnya pada pemasukan dan tidak adanya biaya pengembangan.

Selain itu menurutnya, museum itu perlu dikemas secara interaktif dan mengikuti trend, dikemas sebagai ruang belajar yg menyenangkan dan informatif sesuai jaman.

Indikator destinasi wisata menarik untuk dikunjungi adalah wisatawan rela membayar berapapun, tapi merasakan kepuasan.

” Mereka akan datang lagi suatu saat nanti, kalau mau memberi tanda bintang pasti mereka akan kasih bintang terbaik ” ujarnya.

Hal penting lainnya menurut Ikhsan, strategi pengembangan wisata sejarah agar menarik pengelola perlu menggandeng investor, bahkan masyarakat dilibatkan sebagai bagian dari promosi dan branding.

” Setidaknya, ada pemandu sebagai ujung tombak menariknya destinasi tersebut ” pungkasnya.

Penulis : Fendi Chovi
Editor: Mazdon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here